Bottom Ad [Post Page]

NASIONAL

Bagi Indonesia, Penyadapan Australia Dianggap Cuma Angin Lalu?

Jakarta - Australia dan Amerika Serikat bertahun-tahun menyadap Indonesia. Pengkhianatan ini sangat serius, namun Australia maupun AS, tidak akan sudi meminta maaf kepada Indonesia.

Mulut elite Jakarta sangat marah, namun kepala mereka tetap dingin. Itulah sikap Presiden SBY yang terbaca oleh media. Artinya, insiden ini hanya riak kecil yang segera berlalu. Mengapa?

PM Australia Tony Abbot berpendapat, penyadapan ini telah menjadi tradisi pemerintah, “Dan saya tidak berniat mengubah itu hari ini," kata Abbott. Menurut PM Abbott, Pemerintah Australia menggunakan semua sumber daya yang tersedia, termasuk informasi penyadapan untuk membantu negara sahabat dan sekutu, bukan untuk menyakiti.

Abbott menyatakan Australia tak perlu meminta maaf kepada Indonesia atas langkah yang dilakukan untuk melindungi negaranya. Menurutnya, Australia tidak perlu meminta maaf atas tindakan demi melindungi negara, baik di saat ini maupun di masa lalu.

“Itu berarti, Australia tidak perlu menjelaskan secara detail apa yang kita lakukan untuk melindungi negara kita seperti halnya negara lain tidak perlu menjelaskan secara detail apa yang mereka lakukan untuk melindungi negara mereka. Negara lain seharusnya bertindak seperti halnya yang mereka lakukan sendiri,” tegas Abbott.

Australia merasa penyadapan itu untuk kebaikan, sementara Indonesia merasa penyadapan itu pengkhianatan yang menyakitkan. Jakarta tentu marah, namun kemarahan itu bisa diprediksi ‘hanya sesaat’ untuk memuaskan emosi nasionalisme massa.

Sikap Pemerintah RI sekarang beda jauh dengan sikap Presiden Suharto yang tegas terhadap Uni Sovyet akhir 1970-an ketika berlangsung era Perang Dingin Blok Barat dan Timur (Soviet).

Pada kurun 1970-an itu, sejumlah diplomat Uni Soviet melakukan kegiatan mata-mata, termasuk mereka yang menjadi staf penerbangan Aeroflot. Pemerintah Suharto, langsung mengusir diplomat Uni Soviet tersebut dan minta negaranya mengurangi jumlah diplomatnya di Jakarta. Penerbangan Aeroflot dari Moskow ke Jakarta juga ditutup oleh Pemerintah Suharto, yang didukung AS/Barat selama era Perang Dingin (1945-1990).

Menurut Yusril Ihza Mahendra, Pemerintah RI saat ini harus bertindak tegas terhadap "negara asing yang menginjak-injak kehormatan kita sebagai sebuah bangsa."

Masalahnya, negara yang dianggap menginjak-injak itu Australia dan AS, yang notabene sahabat Indonesia. Sehingga Jakarta tetap mengambil langkah yang rasional dan terukur serta tak emosional, dan tidak akan ada pemutusan relasi diplomatik karena kepentingan bersama mereka.

Geger isu penyadapan oleh Amerika Serikat (AS) dan Australia dirilis sejumlah media asing berdasarkan dokumen rahasia yang dibocorkan oleh intel Amerika Serikat, Edward Snowden. Dokumen tersebut menyebutkan bahwa Presiden SBY dan sembilan orang yang masuk dalam lingkaran dalamnya menjadi target penyadapan Australia.

AS dan Australia tidak membenarkan, tetapi juga tidak membantah. Namun mudah diduga, riak-riak politik dalam hubungan RI-Australia dan RI-AS akan segera berlalu, dan hubungan baik bakal kembali berlanjut karena kedua negara (Australia dan AS) telah melaporkan klarifikasi dari Indonesia ke negara mereka masing-masingsetelah Ad Interim Dubes AS dan Dubes Australia dipanggil oleh Menteri Luar Negeri RI.

AS dan Australia hampir pasti memberikan klarifikasi dengan cara sedemikian rupa. Jakarta jelas tidak akan berani mengambil langkah drastis dan dramatis menyikapi penyadapan AS dan Australia karena pertimbangan strategis. Marah-marah boleh saja, tapi kenyataannya, Indonesia sangat tergantung pada AS dan sekutunya itu.

Agaknya, kemarahan elite eksekutif dan legislatif di Indonesia lebih sebagai politik pencitraan untuk menyedot simpati dan perhatian publik bahwa mereka adalah para nasionalis yang berdaulat, yang tidak mau disadap negara asing. Argumentasi para elite politik yang umumnya geram dan marah serta nyaris seragam itu tak bisa dihindarkan karena mereka tak mau ditinggalkan konstituen pada pemilu 2014, terutama masyarakat pemilih yang marah atas penyadapan AS dan Australia kepada Indonesia, yang dianggap menodai nasionalisme kita.

Berbeda sekali saat SBY merespon isu kedekatannya dengan bunda putri. Begitu keras, yakin dan tegas

Inilah riak-riak kecil dalam hubungan luar negeri RI-Australia dan (RI-AS), yang tak lebih sebagai badai di siang hari. Dan sudah pasti, badai itu cepat atau lambat pasti berlalu karena Jakarta sendiri tak mau kehilangan AS dan Australia yang secara ekonomi-politik dianggap jauh lebih digdaya.

About Unknown

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.