Bottom Ad [Post Page]

OPINI

Iman, Keberanian dan Ketegaran ditengah Badai

Apa yang membuat Ali Bin Abi Thalib Ra. mau menggantikan posisi tidur Rasulullah padahal resikonya adalah kehilangan Nyawa. Apa yang membuat Bilal Bin Rabah Ra. bertahan di himpitan batu besar di siang terik dengan sisa nafasnya memanggil dengan Cinta pada Rabbnya, Ahad..Ahad...Ahad....

Apa yang membuat Abu Bakar Siddiq Ra. mempersembahkan seluruh harta dan jiwa dalam perjuangan, hingga Sahabat bertanya pada Beliau "apa yg kau tinggalkan untuk keluargamu Abu Bakar. Beliau menjawab " cukuplah Allah dan Rasulullahnya, itulah yg paling berharga untukku dan keluargaku ".

Apa yang membuat Ummu Imarah Ra (Nusaibah) seorang Sahabiyah bersedia menjadi Team medis, logistik bahkan turut berperang bersama Nabi SAW. Air matanya menetes bukan karena sedih tapi bahagia telah melahirkan Putra-putra yang menjadi Syuhada. Yang membuat itu semua adalah karena mereka memiliki "IMAN". Bukan Sekedar Iman biasa, tapi Iman yang di pertahankan sekuat tenaga dengan tetesan darah dan air mata. Cara berislam mereka adalah menjadikan Iman sebagai pusaran kehidupan.

Mereka (orang-orang beriman), lembut hatinya, santun perangainya, suka berbuat baik dan menjaga akhlak baik pada siapapun. Mereka sanggup berkorban dalam keadaan lapang maupun sempit. Iman dan Islam seperti itulah yang Hidup dan menghidupkan kehidupan. Itulah yang tidak dapat dihancurkan dari mereka. Tetap menyala walau tubuh telah bercampur dengan tanah.

Iman secara bahasa berasal dari kata Asman-Yu’minu-limaanan artinya meyakini atau mempercayai. Dan Salah satu hikmah beriman kepada Allah adalah seorang hamba akan menikmati kemerdekaan jiwa dari kekuasaan orang lain. keyakinan dan kemerdekaan itulah yang kelak membuat seseorang memiliki keberanian untuk terus maju dan membela kebenaran.

Keberanian macam apa yang membuat Masyitah seorang pelayan Istana mampu berkata lantang mengakui keimanannya pada Allah dan Nabi Musa di hadapan Firaun Raja yang kejam ?
Keberanian macam apa yang sanggup membuat Pemuda Perlente Mus'ab Bin Umair Ra. meninggalkan semua kemewahan lalu menikmati dinginnya malam menyusuri perjalanan yg penuh ancaman dari Makkah ke Madinah sebagai Duta Rasulullah ?

Keberanian macam apa yang sanggup menggerakkan 45.000 pasukan Muslimin dengan segala keterbatasan menghadapi 120.000 Pasukan Romawi yang terlatih di Perang Yarmuk ?
Keberanian seperti itu bukan berasal dari persenjataan dan kekuatan Kawanku, tapi Keberanian itu bersumber dari Cinta yang membakar semangat di dalam Jiwa ...
Cinta mengubah ketakutan menjadi keberanian yang menyala-nyala. Karenanya pekerjaan yang berat menjadi ringan, merasionalkan target yang tidak rasional. membuat paradoks pesimisme menjadi paradigma Kemenangan.

Cinta pada-Nya tanpa keberanian seperti Madu yang kehilangan rasa manisnya. Sedangkan keberanian tanpa Cinta seperti api yang kehilangan panasnya. Sejarah hanya ditulis oleh Pecinta yg punya keberanian. hal itu membuat ia sanggup berkorban dalam bekerja. Biarlah suka dan duka, sedih dan gembira menjadi harmoni dalam perjuangan panjang menuju Surga.

Kisah Cinta dan Keberanian tak akan pernah berahir. Hingga di tiap zaman akan selalu ada pembela-pembela kebenaran yang lahir, Mereka tidak takut ancaman dan tekanan. kehadirannya menggetarkan nyali barisan orang-orang jahat. Cepat atau lambat Kehadirannya akan rindukan semua orang seperti halnya malam merindukan datangnya bulan. Jumlah mereka sangat kecil, tapi mereka sanggup melakukan pekerjaan-pekerjaan besar. Pengorbanan karena Cinta itulah yg membuat Perjuangan mereka abadi, bahkan mereka menghabiskan seluruh umurnya untuk itu, merekalah Jiwa-Jiwa yang bercahaya ....
Sejarah mencatat kisah Cinta tidak selalu bertabur bunga dan romansa. Justru roda zaman menyadarkan kita untuk tidak selalu mengharapkan kisah yang melankolis. Ini lebih pada cerita nyata yang penuh pengorbanan, bukan kisah cinta dari negeri dongeng. Kelak cinta akan menunjukkan kita jalan-jalan pengorbanan. Dan sebaliknya Pengorbanan akan selalu menggelorakan api cinta.

Sanggupkah engkau bayangkan bagaimana Perasaan Keluarga dan Sahabat yg ikut bersama Nabi Muhammad saat di Boikot Kuffar Quraisy di Makkah di masa-masa sulit.
Sahabatku...Sanggupkah engkau bayangkan bagaimana Perasaan Pengikut Nabi Nuh yang dihina dan diejek setiap hari karena membantu membangun Bakhtera di atas bukit untuk menyelamatkan Ummat.
Sahabatku.... Sanggupkah engkau bayangkan bagaimana Perasaan Pengikut Nabi Ayyub ketika Beliau mulai di timpa Penyakit dan di tinggalkan bahkan oleh keluarganya sendiri.
Sahabatku... Sanggupkah engkau bayangkan bagaimana rasanya menjadi Nabi Yusuf yang di penjara karena fitnah dan makar para Penguasa.

Nabi Yusuf as. Pada akhirnya menyadari rupanya Penjara adalah pintu menuju Istana….
Nabi Ayyub as. Pada akhirnya menyadari cobaan beratnya rupanya adalah jalan untuk membuktikan Konsistensinya dalam perjuangan….
Nabi Nuh as. Pada akhirnya menyadari Badai dan banjir besar adalah perjalanan menuju keberkahan dan keselamatan dari Rabb-nya …..
Itulah sebagian perasaan di jalan-jalan Cinta, jalan perjuangan yg penuh pengorbanan.

Ayyuhal Ikhwah…., Berbahagialah sekarang dan janganlah bersedih hati berkepanjangan atas semua badai yg kita hadapi.
Karena kita sedang melawati jalan-jalan itu sekarang…….
Jalan para Nabi-Nabi ……
Jalan-jalannya para Pemenang …..
"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman." (Ali Imran ayat 139)
Samarinda, 10 Juni 2013
Sahabatmu…

Sani Bin Husain

About PKS Berau

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.