Bottom Ad [Post Page]

PROFIL

Guruku, Pahlawan Kepercayaanku



Wajah Metin Koch nampak murung. Pria asli Melbourne Australia itu tidak seceria hari-hari saat saya menjumpainya di hotel tempat ia menginap. Di tengah keramaian Bandara Soekarno Hatta dia berkata, “Brother I lost my passport yesterday.” Rupanya dia kehilangan paspor. Dan ia menyampaikan keinginannya untuk membuat paspor yang baru di  kedutaan besar Australia di Jakarta.
                 Ada hal menarik saat ia mengurus kembali paspornya yang telah hilang itu. Dia berkata, “Saya bisa mengurus  paspor saya lagi jika  ada rekomendasi dari orang Indonesia yang berprofesi sebagai guru, dokter, atau akuntan,” katanya. Akhirnya saya minta tolong kepada kakak saya yang seorang guru di Jakarta. “ Kenapa sih negara anda hanya memberi rekomendasi  pada satu dari  tiga rekomendasi itu ?,” tanya saya menyelidik. “Trustable person,” jawabnya singkat namun penuh makna.
                Potongan kejadian di atas, saya baca dari salah satu majalah pendidikan terkenal di Indonesia. Lain di Australia, lain pula di Malaysia. Negara tetangga kita ini, juga punya cara yang berbeda dalam mengistimewakan gurunya. Di sana hanya guru dan Lansia yang bebas antri.
Pun demikian halnya di Jepang. Negara yang saat itu di luluh lantakkan oleh Bom Hirosyima Nagasaki merana dalam derita yang berkepanjangan. Saat itu sang Kaisar Jepang tidak bertanya berapa harta yang tersisa untuk membangun negara, berapa tentara yang masih hidup, atau berapakah sanak familinya yang selamat. Tapi sang Kaisar justru bertanya dengan pertanyaan yang barangkali hampir tak terfikir oleh kita di saat-saat yang genting seperti itu. Pertanyaannya adalah berapa jumlah guru kita yang selamat.
Menyimak potongan kisah di atas, saya jadi merenung, mereka orang Australia, Malaysia, Jepang  begitu menghormati profesi guru . Sampai-sampai guru dijadikan rujukan kepercayaan untuk orang yang kehilangan dokumen yang sangat penting yang terkait dengan perjalanan di negeri orang.
                Logikanya tentu saja sangat mudah diterima dan sangat sederhana. Bahwa seorang guru haruslah sosok yang terpercaya,haruslah sosok yang di permudah segala urusannya,dan benar-benar dilindungi keselamatannya, mengapa ? karena dia berada di sebuah laboratorium yang sungguh sangat besar demi memunculkan kader-kader bangsa masa depan. Sehingga apapun yang diberikan atau diajarkan guru di kelas akan berdampak besar pada wajah bangsa kita di masa depan.
               
                Jika guru mengajarkan kebenaran, ilmu yang bermanfaat, keluhuran budi  pekerti, maka akan lahir generasi unggul di negeri kita tercinta ini. Tapi sebaliknya, jika yang diajarkan salah, keliru atau tidak dapat dipertanggungjawabkan, tentu juga akan lahir dari “rahim” kita anak negeri yang juga salah, keliru dan tidak bertanggung jawab.
                Saya fikir, pemerintah Australia tentu sudah secara sistematis dan sadar  menjadikan guru sebagai profesi yang begitu sangat tinggi di mata masyarakatnya. Bahkan pemerintahnya telah berhasil “memaksa” rakyatnya/masyarakatnya  untuk menjadikan guru sebagai rujukan kebenaran, rujukan kepercayaan dan rujukan sebuah kejujuran.
Dan tidak salah juga jika Kaisar Jepang disibukkan mencari para gurunya, karena yang terpenting adalah membangun sebuah peradaban.
                Di Indonesia, pencerahan buat para guru Alhamdulillah sudah mulai terlihat. Dengan kesejahteraan yang dipersembahkan pemerintah buat para guru semoga bisa membuat guru menjadi terbantu. Dan hal ini tentu saja diharapkan dapat berdampak positif pada kinerja sang guru. Jangan sampai yang terjadi justru sebaliknya, kesejahteraan di dapat, tapi hak para murid diabaikan.
Semoga dari “rahim”para pahlawan tanpa jasa ini akan lahir para pemimpin Indonesia masa depan yang juga menjadi rujukan dan dapat dipercaya bagi masyarakatnya. Insya Allah. Keep being trustable guruku! ( Saripah Mahani, S.Pd.I. Calon Legislatf PKS Berau No 9/ kewanitaan PKS Berau) : adan
)

About PKS Berau

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.