Bottom Ad [Post Page]

DAERAH

JALASAH RUHIY : MEMAKSIMALKAN SARANA TARBIYAH BAGI KADER AKHWAT PKS


Kamis, 2 mei 2013  aula TKIT Ash-shohwah dipadati oleh sedikitnya 100 kader akhwat PKS. Seperti sebelumnya, jalasah ruhiy sebagai salahsatu wasail tarbiyah yang secara berkesinambungan dilaksanakan per bulan ini menjadi sarana bagi kader untuk meng-upgrade kembali semangat dan pemahaman keislaman mereka. Termasuk menjadi wadah silaturrahmi dan mengeratkan ukhuwwah antara sesama kader akhwat.  Hadir dalam serangkaian acara tersebut ustadz Harjufri selaku pemberi tausiyah yang menyampaikan materi sikap Rendah hati dan dermawan.

Dikisahkan salah seorang cicit rasulullah dari Husein bernama Zainal abidin. Beliau adalah salah satu teladan dari generasi awal umat ini, beliau juga merupaka seorang ahli ibadah, ahli sedekah dan sangat dalam ilmu agamanya. Suatu ketika beliau menangisi dirinya, menyaksikan fenomena tersebut para sahabat yang lain bingung dan bertanya apa yang menyebabkan cicit rasulullah tersebut menangis, padahal ia memiliki 3 keutamaan yang belum tentu dimiliki oleh orang lain, karena beliau adalah keturunan rasulullah, yang seyogyanya akan mendapat syafaat rasul dan rahmat Allah di hari kemudian. Tapi dengan tegas Zainal abidin berkata “ketahuilah, bahwa garis keturunanku sama sekali  tidak menjamin keselamatanku diakhirat kelak” (qs. Al-mu’minun :41). Terlebih syafaat itu memiliki 2 ketentuan dimana si pemberi syafaat harus mendapat izin dari Allah dan si penerima syafaat haruslah orang yang diridhoi Allah. Garis keturunan dan kelebihan yang ia miliki tidak serta merta membuatnya merasa lebih tinggi, sebaliknya ia justru merasa tidak aman karena amalnya masih sangat sedikit. Lantas bagaimana dengan kita? Sebaliknya, kita seringkali beramal sedikit tapi sudah merasa sedemikian banyak.

Rendah hati atau disebut juga tawadhu adalah sifat lahir yang merupakan pancaran kondisi bathin, yang disebabkan oleh 3 hal, yakni  : pertama, al-muraqqabah (merasakan pengawasan allah), seorang hamba tidak akan mungkin serta merta mampu merasakan pengawasan Allah jika dirinya tidak dekat dengan Allah. Kedua, takzim dengan Allah. Ini adalah sebuah kondisi dimana seorang hamba merasa kecil dan tidak memiliki apapun kecuali hanya karena rahmat dan karunia Allah. Segala kelebihan yang ada pada dirinya hanyalah milik Allah, bukan semata-mata karena usahanya sebagai seorang individu. Ketiga, mahabbah atau cinta kepada Allah. Ini adalah tingkatan tertinggi keimanan seorang hamba, dimana ia beriman dan berbuat baik bukan karena mengharapkan syurga atau takut akan siksa neraka, melainkan ia beramal karena semata-mata ia mencintai Allah, Rabb dan Tuhan semesta.

Dalam ulasan singkatnya, ustadz Harjufri mencontohkan keteladanan sikap rendah hati ini pada sebagian diri sahabat rasulullah, diantaranya ada amirul mu’minin Umar ibnu khattab r.a dan Ali bin abi thalib r.a. dimana dalam banyak riwayat dikisahkan bahwa kedua sahabat rasul tersebut tidak segan-segan memanggul daging yang ia beli sendiri tanpa adanya pelayan, padahal saat itu mereka merupakan pimpinan tertinggi ummat muslim, yang menggantikan kepemimpinan rasul.

Selain kedua amirul tersebut, sikap rendah hati ini juga tercermin pada salah satu sosok salafushshalih Abu hurairah, beliau juga tak segan-segan memikul seikat kayu bakar sepulangnya dari pasar tanpa bantuan protokoler dan semacamnya, padahal saat itu beliau menjabat sebagai seorang gubernur dizaman pemerintahan Marwan.

Ustadz Harjufri berharap, ditengah krisis kepercayaan terhadap pemimpin yang melanda negri ini, sosok –sosok yang beliau sebutkan bisa menjadi refleksi kepada siapapun yang Allah beri amanah baik berupa jabatan maupun kelebihan materi. Karena dalam minhajul muslim, syaikh Abu bakar zabir mengatakan, salahsatu bentuk sikap tawadhdhu adalah mau duduk bersama orang-orang miskin/cacat, mau menjawab panggilan mereka, termasuk mau makan dan berjalan bersama mereka. Sikap ini juga secara sempurna terpancar pada diri Rasulullah yang agung. Rasul lebih cendrung suka melakukan banyak urusan pribadinya sendiri tanpa bantuan orang lain, berbaur dengan masyarakat ataupun mendahului mengucap salam. (rujukan Qs. 26 : 215 dan Qs.25 : 63)

Sikap rendah hati saja tidak cukup, kerendah hatian ini harus ditunjang dengan sifat-sifat terpuji lainnya, diantaranya yakni dermawan. Sama halnya dengan bahwa perasaan simpati harus direalisasikan dengan sikap empati terhadap sesame, seperti halnya yang dicontohkan rasul dan para sahabatnya. Adapun 4 ketentuan dalam penggunaan harta yakni : shadaqah, mur’ah, wiqayah dan upah.

Mengakhiri tausiah singkatnya, ustadz Harjufri mengajak seluruh kader untuk membumikan sifat rendah hati dan dermawan di diri tiap kader dakwah. Selanjutnya acara ditutup dengan do’a, shalat magrib berjamaah dan ifthor/ buka puasa bersama.//Naz

  

About PKS Berau

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.