Bottom Ad [Post Page]

KOLOM AKHWAT

Catatan Pojok : Tentang Perempuan (Part.1)

Beberapa waktu terakhir aku menyibukkan diri berkutat dengan internet, buku dan film. Tak mau melewatkan banyak hal, ‘off’ dari aktivitas mengajar benar2 ku gunakan dengan baik..Dari pagi hingga malam aku sibuk browsing artikel dan  berita. Maklumlah, Aku tinggal hampir di ujung Kalimantan, bukan di Ibukota propinsi. Sehingga akses berita sangat lamban, Koran baru datang ke daerah kami setelah menjelang siang. Sehingga Aku mensiasatinya dengan berlangganan Koran elektronik, selain akses yang lebih cepat, Aku juga tak perlu repot mengeluarkan biaya berlangganan..langganan kali ini gratiiiis dan tidak butuh biaya kecuali buat isi ulang modem per 14 hari :-)

Beberapa teman sms menanyakan kabarku yang kelihatannya hilang dari dunia perfesbukan :’) hmm…kalaupun ada yang melihat Aku jarang aktif di FB akhir-akhir ini, menurutku anggapan tersebut sebenarnya tidak cukup benar. Justru akhir-akhir ini, Aku OL 'gila-gilaan'..jauh lebih sering dari biasanya :)  Hanya saja, akhir-akhir ini biasanya begitu login, melihat beranda dan wall-ku sebentar,  Aku langsung meluncur ke beberapa grup ‘intelektual’ku. Melihat perkembangan diskusi gender, kepenulisan dan travel writing yang sedang kuikuti, tentunya sambil browsing dan mengakses berita2 nasional.

Kebiasaan baru ini, membuatku happy sekaligus pusing. Happy karna serasa kembali melihat dunia dengan ‘leluasa’.. tapi juga pusing lantaran terlalu banyak informasi yang masuk tapi nggak ada tempat penyalurannya. bayangkan saja, pasca QL sekitar jam 3an Aku sudah mulai mengakses Media Indonesia dan Suara Merdeka ditambah beberapa Koran local. Paginya, Sambil beres2 rumah, menyiapkan sarapan hingga makan siang, sesekali Aku memberi komentar di diskusi grup yang biasanya semakin siang semakin seru. Tak lupa juga melancong ke bilik travelling kompasiana buat menyegarkan fikiran, lumayan bisa keliling dunia gratisss ^^.

Setelah selesai mengerjakan semua pekerjaan dapur dan all the ribets things-nya, Aku kembali focus nongkrongin laptop..kali ini menjelajah di Koran tempo yang biasanya baru update sekitar jam 12 siang, disambung  Jurnas dan Sinar Harapan. Sesekali Aku juga melancong ke Banjarmasin Post, yah.. Sekedar ingin tau saja bagaimana kabar kota yang sudah seperti tanah kedua bagiku ini. Ternyata lagi pada ngeributin masalah launching THM yang konon katanya terbesar se-Asia tenggara. Semakin kontras saja kota ini..!

Merasa capek membaca di laptop, Aku beralih nongkrongin buku. Biasanya lebih fleksibel. capek membaca buku Aku memutuskan nonton ulang film2 lawas yang menurutku ‘seru dan keren’. Yah..minimal nggak buat bosan saat ditonton berulang-ulang (maklum persediaan film juga sangat sangat terbatas) .. daaan of course tak lupa sebelumnya membuat snack ringan untuk ngemil :D

Nah..Anehnya tanpa aku sadari selama 1 bulan terakhir ini semua yang aku diskusikan, baca, dan saksikan  bermuara pada satu pertanyaan central tentang “Bagaimana seharusnya kaum perempuan berperan ditengah2 idealitas dan realitas hari ini?” Pertanyaan ini bermula ketika tanpa sengaja Aku menarik buku ‘Storycake for amazing moms’  dari tempatnya, membaca, berfikir kemudian menimbang2 bagaimana jika Aku yang ada diposisi mereka. Rupanya, semesta benar2 mendukung..tanpa sengaja beberapa artikel hasil browsing juga berbicara tentang kiprah perempuan, semakin penasaran Aku memperdalamnya dengan mencoba mencari jejak para perempuan di era 60an hingga sekarang. Selang beberapa waktu setelahnya lagi-lagi tanpa ku sadari aku  ikut nimbrung di diskusi bertema gender yang digagas Mbak Ari Kurnia dan bapak Tabrani Yunis (praktisi media Aceh), setelah beberapa hari sebelumnya seorang teman bernama Hafid Algristian (seorang SEFTer asal Surabaya) yang ku kenal di group kepenulisan melontarkan gagasan ‘Prodita = Program Studi Ibu Rumah Tangga’ yang merupakan hasil dari kegalauannya akan realitas peran perempuan hari ini.

Bertolak dari semua itu, Aku mencoba melakukan komparasi dan kolaborasi cara pandangku dengan realitas para Ibu di keseharian mereka.  Apa yang mereka sampaikan rasanya sudah lebih dari cukup untuk menggambarkan betapa dilematisnya pilihan2 yang harus mereka ambil hari ini. Jauh sebelum ini, Aku seringkali miris ketika terburu2 mengantar pulang seorang rekan kerja untuk menyusui bayinya sambil menyaksikan gurat ‘ketidaknyamanan’ diwajahnya karena seringkali izin pulang. Jauh sebelum ini Aku juga sudah seringkali mendengar ‘keluhan’ rekan2 kerja yang mau tidak mau memilih susu sapi atau susu formula sebagai pengganti ASI bagi bayinya. Atau tentang anak2 yang baru bisa mereka temui pada sore hari sepulang kerja.. meskipun belum mengalaminya, Aku bisa merasakan bagaimana sedihnya kehilangan waktu membersamai anak2 dimasa2 pertumbuhan emasnya. Realitas inilah yang menjadikan hampir sebagian besar dari para ibu hebat itu memutuskan untuk ‘merumahkan diri’ demi membersamai putra-putrinya.

Aku kemudian mencoba berfikir serius tentang ini.. tentang sebuah kebijakan yang mampu mengakomodir peran Ibu dan kepentingan public secara bersamaan tapi seimbang. bagaimana nantinya agar para Ibu hebat itu tetap bisa mengeksplorasi bakat  dan bisa berperan serta dalam proses perbaikan diranah public tanpa mengabaikan kewajiban dan hak anak2 mereka, minimal hak mendapatkan ASI.

Ketika kuutarakan ide terkait kebijakan tersebut, Beberapa teman menganggap apa yang aku fikirkan ini terlalu jauh dan ideal..Bisa jadi penilaian tersebut benar, meskipun Aku secara pribadi melihat sebenarnya ide tersebut bisa diaplikasikan..yah minimal dimulai dari lingkup kecil sebagai pilot project semisal lembaga/yayasan keislaman yang tentunya sangat faham mengapa Allah menganjurkan para Ibu agar baru menyapih anaknya setelah berusia 2 tahun.

Namun, Aku hampir selalu mendengar kalimat bernada pesimis seperti  ‘mustahil, sudah jalani saja apa yang ada’.. atau ‘yang mikirin itu harusnya politisi, bukan guru..kita tugasnya mengajar’.. atau kalimat lain yang menurutku agak 'unik' dan terdengar lucu..’walah fah, nikah aja belum, sudah mikir jauh2’ kata mereka. Biasanya akan ku jawab sambil nyengir.. ‘lha..mmg kenapa mbak? Setidaknya itu akan berguna untuk emak2 yang punya anak saat ini” bersambung di dalam hati --> ‘bukankah tak perlu harus menjadi Ibu terlebih dahulu baru bisa berempati Mbak?’

Jujur saja, Aku termasuk perempuan yang bersepakat untuk mendorong peran kaum hawa diranah public, terutama untuk mereka yang memang memiliki kompetensi dan visi. Ini sama sekali berbeda dengan kaum feminis, para pengusung ide kesetaraan dan keadilan gender yang kebablasan itu. Ide ini sama sekali bukan untuk menyaingi kaum pria, juga jauh dari maksud unjuk diri kaum Hawa. Aku tidak memungkiri, selain alasan2 objektif, pemikiran ini juga dilandasi oleh pengalaman beberapa tahun melihat ranah public ‘tanpa sekat’. Sungguh menurutku masih banyak peran2 publik yang memerlukan tenaga dan pemikiran perempuan, tidak semata2 hanya kebijakan yang bersentuhan dengan kepentingan perempuan secara langsung seperti BP3A, tapi lebih besar dari itu. ini kaitanya dengan kepentingan sebuah generasi..Aku berharap punya waktu lebih panjang untuk memaparkan ide ini nantinya.

Tapi untuk mengawali, mari sejenak meluangkan waktu untuk bertanya sekaligus menjawab. Jika Anda adalah orang yang bekerja dilembaga public, anggap yang paling mudah dianalisa semisal DPR. pernah tidak mencoba menghitung2 dari sekian banyak perempuan yang ada di lembaga tersebut, berapa orang yang mampu diharapkan? Berapa orang yang mmg benar2 kompeten dan menguasai materi serta permasalahan? Berapa persentase kebijakan yang memang benar2 mampu mengeksplorasi kompetensi dan keseimbangan peran? Jika semua perempuan yang ada dilembaga terhormat itu benar2 ‘bekerja’ Aku berani bertaruh Pilihan2 dilematis yang dialami banyak perempuan hebat hari ini mungkin bisa sedikit lebih diminimalisir.. lebih jauh lagi, Relakah anda jika beberapa tahun yang akan datang, anak2 anda hidup dalam dunia yang semakin tereduksi nilai2nya hanya karena beberapa tahun (sebelum dia hidup) Anda membiarkan pos2 strategis itu ditempati oleh orang2 yang tak mengerti nilai bahkan tak bermoral? Tak bervisi dan hanya memikirkan diri sendiri? Mari bertanya, Dunia seperti apa yang ingin Anda siapkan menyambut kedatangan Putra-putri Anda? Seberapa yakin Anda mampu memberi  imunitas internal sehingga nantinya kondisi eksternal sama sekali tidak berpengaruh pada putra-putri anda? Atau kalaupun Anda memang bisa, pertanyaannya siapa yang bisa menjamin Anda mempunyai cukup waktu untuk membersamai putra-putri Anda dalam rentang hidup yg cukup panjang? Itulah yang kemudian mengantarkanku pada klesimpulan bahwa menyiapkan lingkungan sebagai sebuah sistem sangatlah penting. Meskipun ini bukan jaminan, tapi setidaknya kita harus berusaha.

Akhirnya, seperti yang kutulis di comment beberapa postingan teman. Mungkin terlalu dini bagiku untuk mengatakan ini, tapi setidaknya Hingga saat ini Aku percaya bahwa perempuan berpeluang untuk mampu menyeimbangkan peran public dan domestiknya, tanpa ada yang terabaikan. Terlebih jika ini didorong dengan kebijakan pemerintah yang memfasilitasi perempuan agar  tidak selalu dihadapkan kepada pilihan dilematis antara keluarga, anak dan pekerjaan (terlepas kesepakatannya dengan suami sebagai imam keluarga)

Aku  termasuk orang yang meyakini bahwa all the ribet things about rumah tangga seperti karier, bisnis, urusan berbenah, pendidikan anak, dan hubungan yang harmonis dengan suami semuanya penting, ketiadaan yg satu akan mempengaruhi kesempurnaan sesuatu yang lainnya. Tentu saja Aku tak pernah bercita2 seperti Erin Gruwell dalam film ‘the freedom writers’, seorang guru yang sukses mendidik murid2nya tapi harus dihadapkan pada pilihan bercerai dengan suaminya. Memang, pada akhirnya semua ini tidak akan mudah. Tapi bukankah ada sosok2 seperti Yoyoh Yusroh yang telah terbukti berhasil di ranah domestic dan publiknya?

Melihat fenomena hari ini, banyak perempuan yang kesannya mau tidak mau dipaksa 'terjebak' pada realitas..Aku  teringat pesan seorang teman, katanya 'banyak diantara kita yang tereduksi potensi, relasi dan narasinya ketika berhadapan dengan realita dan tikungan2 kehidupan. banyak yang akhirnya banting stir untuk urusan pribadi dan narasinya menyusut hanya menjadi narasi rumah tangga saja".. setelah menikah, banyaknya urusan RT terkadang membuat perempuan terkesan jauh dari partisipasi publik, sementara hari ini menurutku kondisi negara kita masih memerlukan partisipasi perempuan diranah publik..ada diantara perempuan yang harus jadi dokter, hakim, politisi, akademisi serta mengisi elemen2 birokrasi..

Ini sama sekali tidak bermaksud mengecilkan peran Ibu rumah tangga. Menjadi Ibu adalah tugas tersulit sekaligus termulia mengingat semua profesi harusnya bisa dikuasai seorang ibu, dia harus bisa menjadi hakim yang bijak, dokter bagi keluarga, koki, guru, manajer keuangan, assisten pribadi suaminya, bahkan sesekali jd tukang baikin genteng..Tapi sekali lagi kondisi negara kita juga membutuhkan perempuan untuk menjadi volunteer dalam partisipasi publik, bukan semata-mata  karena income yang akan di dapatkan, tapi  lebih kepada peran dan proses perbaikan yang bisa disumbangkan. Apalagi perempuan2 yang sebenarnya punya kemampuan dan kapasitas mencapai ruang public leader.

Selain itu, menurutku kemampuan seorang Ibu yang bekerja/ bersinggungan dengan dunia publik tentu berpengaruh pada caranya membesarkan putra/i-nya.. at least, dia telah merasakan bagaimana realitas zamannya yang mungkin akan kembali dilalui putra/i-nya, kemana zaman akan bergerak, peradaban seperti apa yang mungkin terbentuk..semoga dengan itu ia mampu mempersiapkan putra/i-nya menjadi 'minimal' salah seorang yg turut berkontribusi memperbaiki lingkungannya, memperbaiki dunianya.. minimal dengan itu, semoga ia tidak kembali menyumbang kerusakan dengan meninggalkan generasi yang lemah dibelakangnya..

Oya, beberapa waktu lalu Aku mendengar cerita tentang anak perempuan mantan wakil PM Malaysia Anwar Ibrahim yg dituduh melakukan pelecehan seksual. Ia dijatuhi hukuman tanpa melalui proses hukum semestinya..proses hukum yg dilalui Anwar Ibrahim menjadikan anak perempuannya Nur Azizah memutuskan menjadi politisi setelahnya..dengan kemampuannya ia mampu mencapai ruang publik dengan level kebijakan nasional hingga internasional.. yang Aku kagumnya, dalam berbagai kesempatan ketika terekam kamera tak jarang Nur Azizah ini membawa anak kecil dalam gendongannya.. ia hampir selalu menggunakan kesempatan untuk membawa buah hatinya jika ada acara yang memperbolehkan u/ itu. ketika dikonfirmasi dia mengatakan "Saya ingin mensosialisasikan kepada publik, bahwa perempuan pun bisa berpartisipasi diranah publik tanpa mengenyampingkan keluarganya, peran domestiknya.. selain itu saya ingin anak2 dan keluarga saya mengerti, mereka dan apapun yang saya jalani tidak dapat saya jadikan pilihan. Saya juga ingin menegaskan kepada mereka bahwa mereka sangatlah penting dan berarti  bagi saya!"

Bagimanapun juga, saat ini kita sedang belajar.. yang namanya belajar tentunya perlu proses, mungkin tidak langsung berhasil. Do’aku, semoga ketika Allah berkenan memberikan amanah itu, Allah juga memberi kita kekuatan untuk bisa melaluinya dengan baik. Aamiin :-)

Urgent : hanya sekedar sharing..sekali lagi apa yang saya tulis hanya pendapat, bisa benar dan tentu saja bisa salah..silahkan masukannya jika ada, semoga kita bisa sama2 belajar.. Terimakasih//Naz

About PKS Berau

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.