Bottom Ad [Post Page]

NASIONAL

Saya–yang tak berhasil mereka (PKS) jadikan sekutu–selanjutnya mereka anggap sebagai lawan.

Hari ini kompasiana kembali dihangatkan dengan pembicaraan tentang PKS, jika umumnya kita membaca beberapa orang yang menceritakan pengalamnnya bersama PKS dalam hal PKS membawa kebaikan, maka kali ini adalah pengalaman seseorang yang merasa kurang PKS. Tulisan yang berjudul singkat "Saya dan PKS" ini mengisahkan penuturannya tentang sikap-sikap pragmatis PKS yang puncaknya adalah tertangkapnya pimpinan elit PKS (lebih tepatnya orang nomor satu di PKS) oleh KPK terkait kasus impor  daging. 

Hal mana yang membuat penulis tersebut merasa perlu untuk menulisnya adalah pengalamannya dari dalam kampus dimana ada hubungan kurang mengenakkan antara dirinya dengan aktivis PKS. namun hal yang perlu digarisbawahi adalah beliau ini mengaku dirinya sebagai seorang agnostik (percaya Tuhan, tapi tidak percaya agama) yang menganut prinsip liberal sekuler. 

Saya–yang tak berhasil mereka jadikan sekutu–selanjutnya mereka anggap sebagai lawan. Pertarungan ideologis berlangsung di dalam dan luar kelas kuliah. Perdebatan dalam perkuliahan sih selalu saya menangkan, dalam hal meraih persetujuan dosen serta diamini oleh para mahasiswa lain. Misalnya, ketika membahas konflik Israel-Palestina. Saya yang mendukung “solusi dua negara” jelas di atas angin dalam diskusi ilmiah, dibandingkan para kader PKS yang meresonansi sikap Hamas (sesama onderbouw Ikhwanul Muslimin) yang bernafsu melenyapkan negara Israel.
ini adalah salah satu dari paragraf yang dikutip dari tulisannya.
lebih lengkapnya silahkan baca link dibawah.

Meski begitu ada komentar yang mencoba menetralisir tulisan ini. dari seorang pemilik akun Wahyudi.

Berhubung saya tak pernah kuliah diUnair jd saya tak bisa membenarkan atau menyalahkan testimoni bung Radix ini. Hanya saja melihat pengalaman di UGM dulu, saya justru melihat kader2 PKS (dulu PK) yg perjuangannya paling santun dan taat aturan via Demokrasi kampus.
Sementara elemen pergerakan mahasiswa lain justru sering melawan aturan atau malah menggunakan kekerasan, sampe ada slogan kalau belum berantem dengan aparat blm aktivis demokrasi namanya, seperti yg dilakukan berbagai mahasiswa kiri, PRD misal yg sempat dilarang diera orde baru.
Berhubung saya berasumsi konsep n ideologi para kader PK/PKS di UGM dan Unair saya rasa sama, berdasarkan pengalaman saya agak meragukan testimoni anda, jujur saya ragu 95% atas testimoni anda. 5% sisanya bisa benar testimoni anda, karena namanya jg jama’ah, diantara mayoritas orang santun pasti ada saja yg brangasan dan mudah marah.
Soal status PKS terkini yg anda vonis menghalalkan segala cara dan sedemikian korup sayapun masih ragu alias tak percaya. Status korup apalagi terkorup harus jelas parameternya apa?
Walau saya kuliah diKomunikasi saya percaya statistik, nyatanya setahu saya blm ada kader PKS yg divonis penjara sampai saat ini karena kasus korupsi (LHI blm terbukti, Misbakhun bebas), nha kalau blm ada lantas apa parameternya, masak hanya karena asumsi PKS partai korup?
Kalaupun kalau ternyata saya salah dan ternyata sdh ada kader PKS terbukti korup berdasar vonis hakim dan sampai PK tetep salah, saya tetap yakin PKS bkn terkorup dan tidak sama dgn Golkar yg berdasarkan data yg dirilis Dipo Alam.
Yg menarik menurut saya adalah kesimpulan anda. Anda sedemikian paranoid dgn PKS walau blm memimpin negeri ini, tapi anda malah senang PKS dikalahkan partai2 terkorup Indonesia.
Pertanyaan saya, apakah anda memang lebih memilih partai terkoruplah penguasa Indonesia spt selama ini (versi Dipo Alam)
Kalau memang anda tak nilai PKS buruk, saya malah ingin bertanya, Partai apa yg terbaik dan terbersih saat ini dan paling layak pilih di 2014?
Menunggu pencerahannya. Salam.

http://politik.kompasiana.com/2013/04/23/saya-dan-pks-549345.html?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Khewp

@azkiaslam

About PKS Berau

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.