Bottom Ad [Post Page]

DAERAH

Membangun Kaltim (Harusnya) untuk Semua

MEMBANGUN Kaltim untuk semua bukan untuk selera penguasa! Terkait dengan akan dibangunnya eks puskib/RSUD menjadi supermall, cukup meresahkan masyarakat Kota Balikpapan. Daerah tersebut rawan banjir, kemacetan di tambah lagi dengan terindikasi adanya patahan bumi yg ada di daerah tersebut.

Walaupun banyak pakar yang mengatakan patahan di daerah tersebut adalah patahan pasif namun kemudian perlu juga untuk diantisipasi dampak negatif ketika supermall itu akan di bangun. Mengingat bangunan supermall tersebut di rencanakan akan di bangun 9 lantai dan ada 3 bangunan apartemen yang masing-masing apartemen direncanakan 21 lantai. Ini bukanlah bangunan-bangunan sederhana seperti yg kita bayangkan. Jelas  ini merupakan ancaman bencana apa bila bangunan supermall dan juga apartemen yang direncanakan akan di bangun di lahan eks puskib.

Tragedi pada tahun 2007 terjadi longsor di daerah Telaga Sari yang cukup dekat dengan lahan eks Puskib yang direncanakan akan dibangun supermall. Kejadian ini banyak merusak fasilitas umum dan juga rumah warga di sekitarannya. Ini salah satu indikasi bahwa daerah tersebut ada patahan bumi yang terus bergeser dan mengakibatkan pergerakan tanah. Musibah putusnya jalan tersebut menghambat arus lalu lintas dan memakan 3 korban jiwa padahal di daerah tersebut tidak ada kegiatan pembangunan.

Bisa dibayangkan ketika adanya getaran akibat kegiatan pembangunan pancangan pondasi  tiga apartemen yang masing-masing apartemen 21 lantai dan juga pancangan pondasi supermall 9 lantai, siapa yang akan bertanggung jawab ketika terjadi bencana atau sesuatu hal yang tidak diinginkan. Kejadian tahun 2007 itu cukup menjadi pembelajaran bagi kita, terutama warga Balikpapan.

Akibat bencana tersebut banyaknya perencanaan pembangunan yang pada akhirnya tertunda akibat alokasi anggaran yang telah direncanakan dialokasikan untuk memperbaiki sarana prasarana yang rusak akibat bencana tersebut dan memakan biaya yg tidak sedikit, ketika ini semua terjadi siapa yang akan  bertanggungjawab jelaslah Pemkot Balikpapan dan juga masyarakat Balikpapan yang akan menanggung.

Masih segar di ingatan kita banjir mencapai 2,7 meter kecepatan angin 37 knot  yg baru-baru ini terjadi di Kota Balikpapan mengakibatkan  sejumlah daerah terendam banjir yang menyebabkan 4 nyawa melayang. Bencana ini mengharuskan Pemkot Balikpapan mengeluarkan anggaran Rp 1,7 miliar. Bisa kita bayangkan kota Balikpapan bagaimana kalau 10 kali banjir?

Berdirinya supermall di Balikpapan pendapatan yang didapat Pemkot Balikpapan dengan dampak negatifnya tidaklah seimbang. Pemerintah provinsi jelas mendapatkan keuntungan yg cukup luar biasa namun bagaimana kemudian masyarakat, jika bencana yang diprediksikan itu datang?

Melihat kondisi ini sudah saatnya Rizal-Heru selaku Walikota dan Wakil Walikota Balikpapan tegas dengan melakukan penolakan terhadap pemerintah provinsi terkait dengan perencanaan pembangunan eks Puskib menjadi supermall.

Kami berharap Pemkot Balikpapan baik eksekutif mau pun legislatif jangan takut dengan
pernyataan Gubernur Kaltim. Anda dipilih oleh masyarakat Balikpapan, sudah seharusnya mendengarkan aspirasi masyarakat secara luas bukan segilintir pihak yang mengatasnamakan masyarakat Balikpapan.

Pernyataan Awang, bener-bener melukai hati masyarakat Balikpapan dan bukankah ini mencederai dan melukai proses demokrasi dan juga melanggar HAM. Kalimat itu juga penghinaan terhadap pemerintah Balikpapan dan anggota DPRD kota Balikpapan selaku perwakilan masyarakat Balikpapan.


Sangat jelas dalam ingatan saya, bahwa Ketua DPRD Balikpapan, Andi Burhanuddin Solong pernah menolak tegas adanya supermall di eks Puskib. Bahkan diingatkannya, bagaimana proses lahan resapan air di Stalkuda yang berubah menjadi mall merupakan awal dari bencana banjir yang kerap memakan korban di Balikpapan.


Terkait dengan adanya warga Mekar Sari yang mendukung rencana Gubernur membangun eks Puskib, jangan lupa bahwa dampak negatif dari pembangunan eks puskib bukan hanya warga Mekar Sari yang merasakan, tetapi juga seluruh warga masyarakat kota Balikpapan.


Semoga proses fasilitasi yang dilakukan oleh Gubernur Awang, bukan cara adu domba antara warga Mekar Sari yang pro dan kontra. Jika ini memang benar, benar kiranya judul di atas, penuntasan lahan eks Puskib gambaran ketidak mampuan Awang memimpin Kaltim. Bukankah membangun Kaltim untuk semua bukan untuk selera penguasa! (*)

Oleh: Herry Soenaryo
Manager Program Sentra Program Pemberdayaan  dan Kemitraan lingkungan (STABIL)
 dimuat di tribun kaltim

About PKS Berau

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.