Bottom Ad [Post Page]

KOLOM AKHWAT

Tips Siasati Pengeluaran di Bulan Puasa. Oleh Pritha H. Ghozie

Pada bulan Ramadan, meski tampak teratur, ternyata pengeluarannya bisa lebih besar dari pada bulan-bulan biasa, terutama untuk urusan makanan, dan juga persiapan lebaran. Sebetulnya, kisah ini tidak harus berulang lho! Yuk, simak tips berikut untuk mensiasati pengeluaran di bulan puasa, agar keuangan tidak carut-marut.

1. Bagaimana menyiasati pengeluaran di bulan ramadan ini agar tidak menjadi ‘boros’?
Sumber keborosan utama di Bulan Ramadhan adalah “lapar mata” saat berbelanja untuk berbuka dan juga kebutuhan untuk memberikan bingkisan lebaran untuk rekan kerja mau pun para pekerja di rumah. Nah, banyak sekali orang yang berani untuk gesek kartu kredit disana-sini, karena merasa akan dapat Tunjangan Hari Raya alias gaji dobel. Sayangnya, gaji dobel tapi pengeluaran bisa sampai tiga kali lipat bulan-bulan biasa!

Oleh karena itu, salah satu cara paling ampuh untuk mensiasatinya adalah membuat anggaran dan menyiapkan uang sesuai anggaran dalam amplop-amplop. Anda hanya akan membuka amplop pada saatnya, yaitu setiap minggu. Jadi, kalau persediaan uang di amplop menipis, Anda tidak punya pilihan selain berhemat. Karena Anda tidak bisa merobek amplop untuk minggu berikutnya. 

2. Pos-pos pengeluaran seperti apa yang harus dibuat?
Kebutuhan di bulan Ramadhan dan juga puncaknya saat Lebaran bisa sangat banyak. Daftarnya panjang, antara lain biaya mudik, oleh-oleh atau hadiah buat saudara dan kerabat, renovasi rumah, kue lebaran, baju, sepatu, aksesori dan seterusnya. Pada saat bulan Ramadhan, usahakan tidak menaikkan uang belanja harian. Jatah makan siang berubah menjadi jatah berbuka, sehingga sisanya tentu tidak ada perubahan.

Sedangkan untuk Lebaran itu sendiri, prioritas pertama - kebutuhan terdekat – antara lain misalnya memberikan THR kepada para pekerja di rumah seperti pembantu rumah tangga, supir, pengasuh anak, dan mereka yang telah membantu kita melakukan pekerjaan rumah tangga saat kita bekerja di kantor. Bila kita mendapat THR dari tempat bekerja, mereka yang bekerja untuk kita juga berhak lho mendapatkan THR.

Priotitas kedua tentu saja menyiapkan makanan Lebaran. Bagi yang masih memiliki orang tua atau saudara dekat di kampung halaman, maka anggaran untuk mudik wajib disisihkan. Jangan lupa masukkan juga biaya oleh-oleh dan bantuan untuk sanak saudara. Bila dananya tidak ada, maka Anda dapat mengirimkan saja bantuan dana melalui transfer atau wesel. Mudik ke kampung halaman? Bisa ditunda untuk liburan berikutnya. Selain bebas dari kemacetan, umumnya harga kamar penginapan pun lebih murah saat musim sepi. 

Pakaian baru, aksesoris dan hal-hal lain yang sifatnya kemewahan dapat ditunda lho. Bila terpaksa juga harus membeli, prioritaskan untuk keperluan anak-anak karena mereka sulit mengerti bila tidak mendapat barang baru. Nah, kalau dananya memang cukup maka tidak ada salahnya membeli barung baru untuk seluruh anggota keluarga. 

3. Bagaimana supaya kita tidak ‘lapar mata’ untuk membeli (misalnya makanan yang belum tentu termakan, atau kebutuhan lebaran yang sebetulnya tidak benar-benar diperlukan)? 
Wah, ini memang godaan standar orang berpuasa. Cara paling efektif tentu saja dengan metode amplop yang sudah dijelaskan sebelumnya itu. Selain itu, kurangi bepergian ke pusat perbelanjaan dan habiskan waktu untuk mengaji dan beribadah.

4. Tips untuk ibu-ibu rumah tangga agar bijak mengatur keuangan di bulan Ramadan ini?
Penting kita ingat bahwa jangan habiskan seluruh uang gaji dan THR hanya untuk kebutuhan jangka pendek! Sisihkan juga minimal 10% untuk tujuan keuangan yang akan jatuh tempo dalam 1 tahun sampai 3 tahun mendatang dan minimal 5% untuk investasi masa depan. Setiap penghasilan yang diterima, termasuk THR, harus dapat disisihkan untuk;
1. Zakat atau kegiatan sosial lain,
2. Assurance dalam bentuk dana darurat dan kebutuhan proteksi,
3. Present Consumption atau keperluan hidup saat ini (kebutuhan jangka pendek),
4. Future Spending atau tujuan keuangan jangka menengah,
5. Investment yaitu investasi masa depan.


Prita Hapsari Ghozie, SE, MCom., GCertFinPlanning, CFP adalah seorang perencana keuangan independen. Prita mulai menempuh pendidikan formalnya di bidang ekonomi & keuangan sebagai mahasiswi S1 di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia jurusan Akuntansi pada tahun 1998. 
Tiga setengah tahun kemudian, ia berhasil lulus dan langsung melanjutkan pendidikan S2 di University of Sydney School of Business, Australia. Selama di Sydney, peraih gelar Master of Commerce ini sempat bekerja paruh waktu di Securities Institute of Australia dan berkenalan dengan ilmu perencanaan keuangan (Financial Planning).

About Unknown

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.