Bottom Ad [Post Page]

DUNIA ISLAM

Belajar dari Partai AKP Turki: Dari Istanbul, Menuju Kekuatan Ekonomi Dunia Baru


Tidak pernah bosan rasanya membahas partai fenomenal yang satu ini. AKP, partai Islam madani pimpinan Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan, memenangi 325 kursi dari 550 kursi di parlemen. Para pendukung, yang kebanyakan adalah pemuda, berkumpul di luar markas AKP di Ankara guna merayakan kemenangan.
Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) dalam kampanye pemilunya mengusung program amandemen konstitusi secara mendasar. Ini dianggap sebagai pintu menuju ‘Turki negara maju pada 2023’ bertepatan dengan peringatan satu abad lahirnya Turki modern pada 1923, yang diproklamasikan oleh Mustafa Kemal Ataturk.
Erdogan berjanji Turki akan menjadi negara maju setara Eropa pada 2023, yang mampu memproduksi senjata, meraih kemajuan ekonomi yang luar biasa, dan bebas isu pelanggaran HAM. Namun, menurut Erdogan, syarat Turki bisa menjadi negara maju pada 2023 itu salah satunya harus melakukan amandemen konstitusi. Amandemen itu, antara lain, bertujuan melepas cengkeraman militer dalam politik praktis Turki.
Pemilu parlemen kali ini pun bagi AKP lebih dianggap sebagai pertarungan meloloskan amandemen konstitusi itu, bukan sekadar merebut kursi di parlemen. Dalam sambutannya, Erdogan berjanji akan merangkul semua pihak untuk kemajuan Turki.
"Kita akan berkonsensus dengan oposisi utama, kelompok oposisi lain, partai di luar parlemen, media, lembaga swadaya masyarakat, kaum akademisi, dan siapa pun yang ingin berpartisipasi," katanya.
AKP telah berusaha membawa moralitas, integritas dan demokrasi ke garis depan politik dan menyatukan nilai-nilai atas dasar sistem religius dengan visi sekularisme. Turki bergerak maju ke arah Westernisasi bahkan mengejar keanggotaan penuh di Uni Eropa. Perdana Menteri Erdogan berusaha keras untuk memperkuat hubungannya dengan Barat.
Berlawanan dengan stereotip demikian luas, AKP nyaris tak sesuai dengan citra sebuah Partai Muslim. Mungkin Demokrat, tapi lebih sebagai partai yang menampilkan citra sebagai partai moderat pemersatu yang mendapat dukungan dari semua segmen masyarakat di Turki.
Perdana menteri dan pemimpin AKP, Erdogan, menolak berbagai deskripsi dan berulang kali menyatakan bahwa pihaknya mendukung rezim liberal berdasarkan laisisme (konsep filosofis yang tidak menanyakan bagaimana kebebasan yang bertentangan dapat hidup berdampingan dalam sebuah masyarakat).
Laisisme adalah pembangunan sebuah ruang yang memungkinkan setiap orang menikmati kebebasan berpendapat. Banyak pejabat AKP yang juga membantah keterikatan mereka dengan partai-partai Islam sebelumnya dalam sejarah Turki. Mereka menyebut Partai Keadilan dan Pembangunan sebagai partai konservatif demokratik.
Melihat wacana dan kinerja AKP, tidak bisa dipandang partai Islam an sich, bahkan sebagai partai Islam yang lunak sekalipun. Sebaliknya, AKP tampaknya menjadi partai yang bertujuan ingin melestarikan nilai-nilai budaya tradisional dan mengadvokasi prinsip-prinsip liberal dalam politik. Bertentangan dengan tuduhan banyak pihak, AKP tidak pernah berupaya untuk menerapkan atau bahkan membahas kemungkinan mengadopsi hukum Syariah.“
Lalu, siapa Erdogan? Erdogan, politisi kelahiran 1954 dan jago bola ini adalah sarjana manajemen dari Universtas Marmara, Istanbul. Pada 1970, dalam usia belia, ia sudah terjun ke dunia politik lewat MSP (Milli Selamet Partisi/Partai Orde Nasional) pimpinan Dr. Necmettin Erbakan, sebuah partai yang dicurigai militer karena dianggap anti-sekularisme. Kemudian terjadi kudeta militer di 1980. Rezim berkuasa melarang semua parpol.
Pada saat itu, Erdogan bekerja pada Otoritas Transportasi Istanbul. Aneh bin ajaib, bosnya menyuruh Erdogan mencukur kumisnya karena dikatakan berbau Islam. Erdogan menampik, lalu ia keluar untuk kemudian memasuki dunia bisnis dan politik. Sekularisme Turki ternyata juga mengurus kumis, tetapi gagal mengurus kemakmuran rakyat.
Pada 1983, pada saat angin demokrasi bertiup di Turki, Erdogan menyertai partai RP (Refah Partisi/Partai Kemakmuran), juga pimpinan Erbakan. Di 1994, Erdogan terpilih jadi Wali Kota Istanbul, sebuah kota metropolitan terbesar dengan penduduk sekitar 10 juta.
Karena RP selalu dicurigai politisi sekuler, pemerintah membubarkan RP. Erdogan dianggap dapat mengguncangkan bangunan sekularisme setelah ia membacakan puisi yang bernuansa Islam. Dia ditangkap, kemudian dihukum 10 bulan, tapi entah apa sebabnya tiba-tiba dikurangi menjadi empat bulan.
Sebagai politikus berbakat dan cerdik, setelah pembebasannya, Erdogan tidak menyia-nyiakan peluang politik yang semakin terbuka. Pada 2001, partai baru AKP dibentuknya. Ibarat menjolok buah ranum yang hampir jatuh, dalam pemilu November 2002, AKP keluar sebagai pemenang dengan meraup 363 dari 550 kursi yang tersedia di parlemen. Dunia sekuler Turki sempoyongan.
Tetapi selalu saja dicegah agar Erdogan jangan sampai menjadi perdana menteri dengan mengaitkan dosa baca puisi yang dianggap anti-sekuler itu. Tetapi Erdogan tidak kehilangan akal. AKP cepat mendukung upaya amendemen konstitusi yang membuka jalan baginya untuk jadi perdana menteri, dan berhasil. Pada Maret 2003 ia dilantik jadi perdana menteri.
Popularitasnya semakin berkibar tak terbendung lagi. Dalam pemilu Juli 2007, untuk kedua kalinya AKP meraih kemenangan dengan 341 kursi di parlemen. Harapan kita, tokoh berkumis ini pandai meniti buih agar selamat membawa Islam sampai ke seberang. Di tangan Erdogan, Islam menawarkan solusi, bukan slogan formalisme seperti yang diusung berbagai kelompok yang buta realitas. [mdr]
source: inilah.com

About Unknown

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.