Bottom Ad [Post Page]

KOLOM AKHWAT

“Saya hanya istri kedua…”

Suatu hari gue ketemu dengan seseorang yang menurut gue Subhanallah.... banget. Ummahat dengan dua jundi yang dari penampilan dan tutur katanya kaya embun pagi....brrr...dingin tapi tidak membekuan malah menyegarkan.

Dari obrolan awal kami, gue melihat dan bisa ngambil statemen  bahwa ini dia akhwat super keren, ummahat keren. Waktu itu beliau dengan santainya berkata, "Saya hanya istri kedua. Istri  ustdaz (begitu beliau membahasakan suaminya) yang pertama adalah dakwah, 'ud'uillallah....saya hanya taat".
Yah....bisa dibayangin deh....Ketika sang ustadz memutuskan untuk pindah ke pulau paling tua ini, beliau mendukungnya. Satu-satunya yang bisa dijadikan alasan adalah dakwah di tanah kelahiran yang sudah bertahun-tahun ditinggalkan (plus alasan pemenangan 2009,Ssst....). Saat ini, daerah gue emang rada minim tuh dengan yang namanya ustadz kanan tapi haroki. Dengan berpindahnya Ustad dan keluarganya dari Jakarta, Wah itu merupakan hal yang sangat menggembirakan bagi para du'at yang sudah mulai merasa "kering".
Nah, berhubung topik gue adalah si Istri yang betul-betul merelakan dirinya hanya sebagai istri kedua setelah dakwah di jalan Allah, gue suprised banget ketika beliau bilang banyak banget hal-hal bagus yang udah beliau relakan untuk dilepas dengan memilih untuk pindah ke bangka. Bayangkan aja, setelah tinggal di Jakarta dengan bi'ah yang sangat terjaga (Ustad dulu tinggal di komplek perumahan di jalan bangka~ bukan pulau bangka~) dimana perilaku jundinya otomatis sangat terjaga dengan keberadaan SDIT, kelas tahfidz,dll, lalu penghasilan yang cukup lumayan di Charity salah satu negara timteng yang ada di jakarta, aktifitas dakwah yang benar-benar efektif dan sekarang saat berpindah ke pulau bangka semuanya berubah total 180 derajat! Di bangka belum ada SDIT lho....bayangin aja tuh jundi sekarang gaulnya bareng siapa, bahasanya udah seperti apa kalo gaul dengan temen2 sekelas atau penghasilan yang....yah emang ga ada yang tetap. Sedangkan udah bisa dimaklumin kalo harga barang di bangka ce;lamitan harganya. Tapi beliau bilang,"entah kenapa yang sedikit di sini jauh terasa lebih berkah...".
Padahal, pada saat yang bersamaan ketika beliau menyetujui usul ustad untuk ke bangka, saat itu ustadz dapet panggilan kerja di madinah, boyongan dengan keluarga dan dapat fasilitas perumahan oke di sebelah masjid nabawi. Ga keren tuh? Ustadz lebih memilih pulang ke tanah kelahiran demi berpartisipasi dalam dakwah islam. Sungguh perniagaan yang sangat besar!
Awalnya beliau merasa kurang sreg buat pulang, tapi dengan penjelasan sang ustadz akhirnya beliau mau pulang juga demi bersama-sama memperjuangkan kalimatullah di bumi ini. Hemm....untuk ini gue salut banget!!
Soale begini....selama nyaris satu tahun gue berada di bangka, gue nemuin banyak banget kader-kader yang menyerah dengan kondisi bangka. Yah mahalnya lah, ya daerah endemi malaria sehingga anak2nya pada sakitlah, atau yang kecewa melihat personal dalam jamaah yang dirasa kurang mengaplikasikan materi-materi tarbiyah yang udah diterima bertahun-tahun. Beberapa diantaranya adalah orang-orang terdekat gue yang dulu menyemangati gue untuk bertahan ketika gue pertamakali datang ke bangka
Yang bikin gue terharu, ummahat yang satu ini malah berkata," Bismillah mari kita coba bersama-sama, kalo bukan kita yang benahi siapa lagi yang mau membangun bangka?"
So....pelajaran moralnya adalah sekarang siapa yang mau jadi istri kedua dan dimadu dengan sesuatu bernama dakwah sehingga aspek2 duniawi yang mengganjal di hati bisa dilepaskan dengan ketulusan dan keikhlasan karena Allah?Waah...ta'at sama suami aja berbuah surga lho...

(calie on multiply)

About Unknown

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.