Bottom Ad [Post Page]

DUNIA ISLAM

Zionisme dan Rasisme

Dalam Konferensi PBB tentang Rasisme - yang juga disebut sebagai "Pertemuan Durban II" -  di Jenewa, Swiss, 20 April 2009, saya menyatakan bahwa jahilyah adalah masalah besar menyangkut Zionisme.

Kampanye menentang fenomena budaya yang jahat ini tidaklah cukup, karena kita juga harus menghapus upaya Zionis memanfaatkan instrumen politik internasional. 
Dalam konferensi Durban II yang bertemakan ‘Kampanye Menentang Rasisme’,  saya menilai tuntutan bangsa-bangsa untuk menghapus rasisme harus dihormati, dan bahwa kehendak kuat pemerintahan-pemerintahan di dunia untuk menumbangkan rasisme terbuka haruslah dibuat selaras. Kita juga harus mulai berani melakukan reformasi hubungan dan aparatus internasional.
Kini umat manusia dihadapkan dengan sejenis rasisme yang wajah buruknya menjadi aib yang besar bagi komunitas global. Zionisme sebagai manifestasi rasisme yang komplit.
Klaim Zionisme sebagai kecenderungan relijius merupakan kebohongan yang memanipulasi perasaan orang-orang awam dan untuk menyembunyikan wajah yang sesungguhnya. Apa yang perlu menjadi pusat perhatian kita adalah target besar kekuatan-kekuatan raksasa tertentu dan negara yang mempunyai kepentingan besar di seluruh jagat, yang memanfaatkan pengaruh ekonomi dan politik  serta kekuatan media skala besar mereka, dan mengandalkan  dukungan komprehensif regim Zionis. Namun, ini semua saya yakin akan sia-sia.
Tak diragukan lagi Anda semua menyadari  upaya-upaya besar yang dibuat oleh pusat-pusat kekuatan dunia, yang bertujuan membelokkan jalan majelis ini dari misi sesungguhnya. Sayangnya, literatur yang mendukung Zionis yang menjadi kaki tangan mereka dalam kejahatan yang mereka lakukan, terlihat dengan jelas.
Ini meningkatkan tanggung jawab perwakilan bangsa-bangsa terhadap atmosfir anti-kemanusiaan ini serta reformasi-reformasi yang pantas dalam hubungan dan perangai internasional. Kita harus tahu bahwa menjauhkan potensi global dari jalan pencapaian sasaran-sasaran besarnya sama dengan memberi andil pada keberlangsungan salah satu bentuk rasisme paling buruk dan nyata.
Prasyarat untuk membela hak-hak asasi manusia kini adalah membela hak bangsa-bangsa untuk menjalankan kehendak bebas mereka dalam pengambilan keputusan global, yang bebas dari pengaruh kekuatan-kekuatan tertentu, dan dalam upaya yang bertujuan mengubah hubungan dan aparatus (peralatan) global. Karena itu, pertemuan ini merupakan  ujian besar.
Dan opini publik bangsa-bangsa dunia, baik hari ini maupun besok, akan mengadili kita. Kondisi umum dunia bergerak ke arah kemunculan perubahan-perubahan besar secara cepat.
Hubungan-hubungan kekuasaan telah menjadi sangat rapuh dan suara patah tiang-tiang sistem penindasan global mulai terdengar. Struktur politik dan ekonomi dunia yang besar berada di tubir keruntuhan, dan krisis politik dan keamanan semakin mendalam. Krisis ekonomi global yang meluas di mana memunculkan ketiadaan harapan pada masa depan yang cerah, mengungkapkan dimensi kualitatif dan kuantitatif perkembangan menyeluruh ke depan.
Selama ini sudah sering ditekankan perlunya kita kembali dari jalan yang keliru, yang dibuat oleh sistem manajemen global oleh pihak yang kuat, dan memperingatkan tentang konsekuensi buruk bila menunda gerakan ini.  Pada pertemuan global ini, dengan berbicara kepada Anda dan seluruh manajer, pemikir, dan bangsa-bangsa di dunia yang haus akan perdamaian, kebebasan, kemajuan dan kemakmuran, sistem kekuasaan yang tidak adil akan berakhir. 
Mencapai akhir jalan tak berujung adalah hal yang tak dapat dihindarkan, karena logika di balik manajemen yang dipaksakan merupakan penindasan, dan karena logika gerakan kolektif dunia  berorientasi tujuan, kemanusiaan dan ketauhidan mengarah kepada  kesempurnaan; yaitu gerakan yang menentang setiap rencana yang tidak sejalan dengan kepentingan bangsa-bangsa di dunia.
Kemenangan yang benar atas yang salah merupakan masa depan cerah umat manusia, dan pendirian sistem global yang adil merupakan janji Tuhan serta seluruh nabi. Terwujudnya kebenaran  masa depan demikian adalah buah nyata dari eksistensi pengetahuan mutlak di balik penciptaan dan berdasarkan keyakinan seluruh manusia yang percaya pada Tuhan, dan sikap yang sangat berharga  umat manusia.
Pengambilan bentuk masyarakat global, kemungkinan praktis dari pengambilan bentuk sistem global itu dan masuknya para pemikir, manajer and masyarakat dunia untuk ikut berpartisipasi secara dinamis dan jujur dalam pengambilan keputusan fundamental yang besar  merupakan jalan pasti dari gerakan besar ini. Kini ada potensi saintifik, teknis dan teknologi informasi yang besar untuk  dipelajari masyarakat global dan jalan yang cocok untuk mewujudkan sistem global itu.
Yang diperhatikan kekuatan-kekuatan besar dunia adalah kekayaan, kekuatan dan bangsa mereka sendiri, sementara di mata mereka bangsa-bangsa lain di dunia tidak berharga. Bukankah pendudukan Afghanistan, di antaranya, merupakan manifestasi kepentingan diri sendiri, rasisme, diskriminasi dan penghinaan terhadap bangsa-bangsa? 
Akar utama rasisme tidak memahami realitas manusia sebagai ciptaan khusus Tuhan. Menyimpang dari jalan kehidupan yang benar, mengabaikan sasaran di balik penciptaan Tuhan atas manusia, dan berpikir tentang filsafat eksistensi telah membawa pada penghancuran cakrawala pandangan manusia dan membuat manusia bertindak untuk kepentingan sementara mereka.
Kekuatan-kekuatan ini, dengan menghilangkan kesempatan-kesempatan yang sama meluaskan jarak pembangunan mereka sendiri sehingga mereka menjadi promotor bentuk rasisme paling buruk.

Kita perlu mulai meningkatkan kesadaran publik tentang filsafat eksistensi umat manusia sebagai alat untuk kampanye melawan manifestasi demikian. Dan prasyarat untuk itu adalah kembali menegakkan nilai-nilai spiritual, etika, dan kebaikan manusia yang agung, yang sesungguhnya ketauhidan.

Mahmoud Ahmadinejad adalah Presiden Republik Islam Iran. Artikel ini diterjemahkan dari Bahasa Parsi oleh Kedutaan Besar Iran di Jakarta.

vivanews.com

About Unknown

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.