Bottom Ad [Post Page]

DUNIA ISLAM

Banjir Propaganda Zionis dan Film Anti Islam

Di akhir tahun 2008 kita masih teringat seorang aktor utama James Bond terbaru Daniel Craig, tampil dalam poster yang begitu heroik layaknya seorang survival di tengah hutan dengan senapannya. Poster yang menggelitik orang untuk masuk ke dalam bioskop dan menikmati aksinya tentu, apatah lagi dia aktor Bond.

Pembukaan film ini diawali potongan gambar bergerak Hitler dengan acungan tangan tingginya dan aksi pasukan Hitler yang sedang menyerang sebuah desa di dataran Eropa sekitar hutan Perelaz Kota Zabielovo di Eropa Timur. Kita disuguhkan tayangan begitu rupa pembunuhan yang kategorinya cukup grafik, namun tetap hanyalah sebuah aksi trik kamera yang menyesakkan dada.

Penembakan dan aksi lainnya berakhir dengan berkumpulnya mayat-mayat di sebuah lubang panjang yang tidak terlalu jelas, apakah itu manusia atau bukan. Sepuluh menit drama pembantaian yang meningkat, membuat persepsi siapa pun akan mengiyakan sepenuhnya bahwa mereka adalah manusia yang harus dikasihani, mereka adalah orang-orang Yahudi. Agitasi dan propaganda

Menurut kamus Oxford, mengagitasi adalah ‘membangkitkan perhatian (to excite) atau mendorong (stir it up)’, sedangkan propaganda adalah sebuah ‘rencana sistematis atau gerakan bersama untuk penyebarluasan suatu keyakinan atau doktrin’. Agitasi memfokuskan diri pada sebuah isu aktual, berupaya ‘mendorong’ suatu tindakan terhadap isu tersebut.

Propaganda berurusan dengan penjelasan gagasan-gagasan secara terinci dan lebih sistematis. Masih hangat di benak kita bagaimana kejadian yang disebut propaganda Holocaust. Walaupun hal ini dilontarkan terus-menerus dalam bentuk film-film dan buku yang gencar dilakukan, namun banyak sejarawan dan cendikiawan yang meragukan tragedi tersebut. Mereka juga menulis berbagai buku mencantumkan argumen dan bukti-bukti yang mempertanyakan keotentikan tragedi Holocaust.

Meskipun demikian, para kritikus tidak mengingkari terjadinya pembunuhan terhadap sejumlah orang-orang Yahudi oleh pasukan fasis Hitler, dan hal ini dinilai sebagai sebuah tragedi. Namun mereka berpendapat bahwa tragedi itu tidak seperti yang digambarkan oleh rezim Zionis. Kritikan pertama yang dilontarkan oleh para cendikiawan adalah bahwa pada Perang Dunia (PD) II jutaan orang dari berbagai etnis dan agama menjadi korban keganasan Nazipro. Namun mengapa yang diekspos secara meluas hanya dikhususkan kepada para korban Yahudi saja? Seorang anggota Komite Pendataan Holocaust AS-Polandia, Rana I Aloy menyatakan, meski orang-orang Yahudi mengalami penderitaan, namun hal itu juga menimpa orang-orang selain Yahudi.

Korban paling banyak pada PD II adalah orang Rusia. Korban tewas di pihak Jerman juga tidak sedikit, dengan jumlah mencapai 9 juta orang dan 5,1 juta orang lainnya menjadi tawanan perang. Dengan demikian, pada PD II telah terjadi berbagai pembantaian massal yang dilakukan oleh negara-negara yang mengklaim sebagai negara yang memiliki peradaban tinggi. Alasan lain yang dikemukakan oleh para pengkritik tragedi Holocaust adalah tidak adanya laporan mengenai pembunuhan massal orang-orang Yahudi pada era Perang Dunia II. Dalam laporan Palang Merah Internasional dan perundingan sejumlah pejabat negara penentang Nazi, juga tidak disebutkan keterangan soal pembakaran orang-orang Yahudi oleh Nazi.

Sebenarnya, Rezim Zionis terlalu membesar-besarkan tragedi pembantaian orang-orang Yahudi. Bukti lainnya, bahwa dalam dokumen pemerintahan Nazi, Hitler tidak pernah menginstruksikan pembantaian massal terhadap orang-orang Yahudi. Bahkan tidak ada catatan mengenai pengalokasian dana besar untuk program tersebut. Program pembantaian enam juta orang Yahudi tentu menelan dana besar dan rencana yang matang. Frederick Toben dalam hal ini mengatakan, “Negara Israel dibentuk atas dasar kisah Holocaust. Oleh karena Holocaust adalah kisah bohong, berarti Israel dibangun di atas kebohongan besar.”

Kelestarian Israel sangat bergantung pada keyakinan masyarakat Barat akan kebenaran kisah pembunuhan 6 juta warga Yahudi di Eropa oleh Hitler. Kembali ke Defiance, pada tanggal 28 Januari 2009 sebuah blog di Indonesia meresensi film ini dan mendapat komentar yang cukup objektif. Komentar sesama penikmat film dari orang Indonesia juga. Isi komentarnya tentang begitu kurang mengenanya unsur dramatik yang ada di dalam film. Adegan perang yang tidak seru, kemudian propaganda Yahudi yang terlalu vulgar dan membuat jengah. Film ini juga ‘menohok’ keyakinan kita bahwa di saat bangsa Palestina mendapat serangan sepihak dari Israel di jalur Gaza, film ini muncul sebagai sebuah ‘penawar’. Bahwa mereka juga merupakan bangsa yang pernah tertindas dan terjajah, momentum yang disengajakah, atau sekadar kebetulan, tentu kita paham pentingnya propaganda ‘baik’ bagi zionis.

Film Anti Islam Film bergenre ini sudah berkeliaran di jagad bioskop Indonesia sejak lama. Dari berideologis Yahudi sampai Islamphobia seperti True Lies yang dibintangi Arnold Schwarzenegger, Schkinder’s List karya Steven Spielberg. Terbaru di tahun 2008 muncul The Body of Lies, The Eagle Eye. Visualisasi komunitas gerakan dakwah Islam digambarkan begitu ‘bodohnya’ disusupi oleh kecanggihan intelijen Amerika. Mereka menggunakan pencitraan satelit hingga jarak terdekat manusia dari angkasa bumi, bahkan dapat dikendalikan dari pengendali satelit penghancur massal ala bom-bom teroris, ledakan-ledakan tak bertuan dan konspiratif Bom-bom tak bertuan ini pun mengenai seorang sutradara besar Muslim, Mustapha Akkad di Amman tahun 2005. Tewasnya Akkad justru ketika sedang memulai pekerjaan besar ‘menghidupkan’ kembali kepahlawanan Salahudin Al-Ayyubi, dengan bintang besar Sean Connery. Bisa dibayangkan efek besar kebangkitan umat Islam kedua setelah karya besar The Message yang fenomenal. Sebuah peperangan yang tidak kunjung berhenti di ranah perfilman dunia. Body of Lies tetap dengan suasana ‘mencekamnya’ perang melawan terorisme, sehingga ‘penghakiman’ terhadap semua gerakan Islam yang ada di muka bumi ini harus diawasi dan dihalau sedemikian rupa agar tidak menjadi bencana di belahan bumi yang lain. Konspirasi teori yang ‘usang’.

Aspiannor Masrie, Dosen Studi llmu Hubungan Internasional Unhas, menulis di majalah Sabili, 15 Juni 2005, bahwa pada berbagai media Amerika, kita akan sangat mudah menemukan gambaran seorang Arab berpakaian tradisional yang dilengkapi senjata AK-47, di tangannya bertuliskan "terorisme". Tapi, kita tidak akan menemukan stereotipe itu dilontarkan terhadap orang Yahudi. Walau hampir setiap hari kita membaca dan menyaksikan tentang pembantaian sadis terhadap rakyat Palestina yang dilakukan oleh para serdadu Israel.

Seorang kartunis terkenal Amerika, Robert Englehard, dari Journal Herald mengatakan, "Saya dapat menggambarkan seorang Arab sebagai pembunuh, pembohong dan pencuri—tidak seorang pun keberatan—tapi saya tidak dapat menggunakan stereotipe tersebut terhadap orang Yahudi." Sebuah ironi hidupnya sebuah bangsa yang dikutuk oleh Allah SWT hinga akhir zaman nanti. Kepentingan mereka merusak tatanan nilai-nilai kemanusiaan dan keyakinan di dunia ini,tidak lain hanyalah sebuah mimpi secuil tanah yang mereka yakini sebagai tempat mereka tinggal, bumi Palestina. Sebuah pola pikir yang sempit dan picik.

Beragam kerusakan di muka bumi ini - yang mereka buat, hanya akan membawa perhatian umat manusia kepada tindak kezaliman mereka sendiri di bumi Palestina. Kalaulah mereka tidak melakukan gencatan senjata sepihak pada peperangan Al-Furqon waktu lalu, maka warga seluruh dunialah yang akan menghentikan agresi mereka sendiri. Umat semakin peka dan dewasa membaca zaman ketika Yahudi tetap dan terus merusak ekuilibrium di alam semesta ini. Pertempuran hak dan batil akan terus berlanjut hingga akhir zaman nanti. Ini sunnatullah yang tidak bisa dibantah sampai kapan pun.

Sabili.co.id

About Unknown

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.