Bottom Ad [Post Page]

NASIONAL

Benarkah PKS Anti-Maulid


INILAH.COM, Jakarta – Semua celah promosi dimanfaatkan parpol menjelang pemilu yang tinggal sebulan lagi. Tak terkecuali hari besar Maulid Nabi Muhammad SAW. Nyaris memua parpol rame-rame mengklaim pecinta Rasul. Padahal, laku dan tindaknya jauh dari sifat-sifat Nabi.

INILAH.COM, Jakarta – Semua celah promosi dimanfaatkan parpol menjelang pemilu yang tinggal sebulan lagi. Tak terkecuali hari besar Maulid Nabi Muhammad SAW. Nyaris memua parpol rame-rame mengklaim pecinta Rasul. Padahal, laku dan tindaknya jauh dari sifat-sifat Nabi.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW cukup akrab bagi masyarakat Indonesia. Peringatan serupa sulit ditemukan di bumi Arab, tempat kelahiran Muhammad. Karena, dalam pemahaman di Islam terjadi perbedaan.

Ada yang beranggapan, maulid menjadi ritual yang masuk kategori bid’ah dan kurafat alias menyimpang dari ajaran Islam. Kelompok ini masuk di antaranya golongan wahabi yang gemar melakukan pemurnian atas ajaran Islam.

Di Indonesia, budaya memperingati hari kelahiran Muhammad SAW telah menjadi hari besar keagamaan yang diakui oleh negara dengan menjadikan maulid nabi sebagai hari libur nasional. Bahkan di beberapa wilayah Indonesia, maulid memiliki nilai budaya yang tidak kecil. Sebut saja acara grebeg mulud yang setiap tahun dilaksanakan di Yogyakarta.

Namun, momentum peringatan nabi menjadi berbeda ketika disandingkan dengan kehidupan politik praktis. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang sempat dirumorkan anti-maulid nabi harus kerepotan menangkal rumor tak sedap ini. Jelas, PKS bakal merugi jika partai berasas Islam ini dituduh sebagai anti-maulid.

Apalagi, PKS yang dalam setahun terakhir ini sedang memperluas segmentasi pemilihnya. Dari pemilih tradisional yang berbasis aktivis Islam kampus (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia/KAMMI) dan muslim perkotaan, PKS ingin menyasar pemilih muslim yang tradisionalis yang tentunya tak asing dengan ritual peringatan maulid nabi.

Menurut Wakil Sekjen DPP PKS, Fahri Hamzah pihaknya sama sekali tidak anti-maulid. Justru sebaliknya, menurut mantan Ketua Umum KAMMI ini, PKS setiap tahunnya menyelenggarakan maulid nabi di seluruh Indonesia. “Setiap tahun, maulid nabi diselenggarakan kader-kader PKS mengikuti tradisi masyarakat setempat,” katanya kepada INILAH.COM, Minggu (8/3) di Jakarta.

Tak sekadar itu, Fahri yang berasal dari NTB itu mengaku saat reses DPR seperti saat ini, dirinya banyak menerima undangan maulid nabi.

Langkah PKS tampak cukup taktis yang menegaskan, tidak anti maulid maupun sebutan kurafat maupun bidah lainnya seperti ziarah kubur, maupun tahlil bagi orang yang meninggal.

Langkah PKS tak sendirian. Partai Demokrat melakukan yang sama, dengan beriklan khusus momentum maulid. Iklan ini sudah mulai tayang beberapa sebelum jatuhnya peringatan maulid.

Dalam iklan tersebut, tampil sejumlah ‘bintang iklan’ yang didahului oleh kemunculan Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaninrum yang juga mantan Ketua Umum PB HMI. Tampaknya, aktivitas di HMI itu seperti menjadi alasan Anas didaulat menjadi bintang iklan maulid nabi. Anas tidak sendirian, di antaranya tampil juga Ramadhan Pohan, Pemred koran Jurnal Nasional yang juga menjadi caleg dari Partai Demokrat.

Iklan maulid Partai Demokrat memang terasa kontekstual yang dikaitkan dengan kepemimpinan SBY sebagai Presiden RI. Seperti dalam pernyataan bintang iklan tersebut yang tak jauh dari klaim prestasi pemerintah, seperti pemberantasan korupsi dan isu lainnya. Seolah-olah, iklan Partai Demokrat versi maulid nabi seperti ingin mendekatkan figur SBY sebagai sosok yang menauladani nabi Muhammad SAW.

Apapun aksi partai politik jelang pemilu ini, sah-sah saja asal berpijak pada aturan. Meski, politisasi tradisi Islam seperti maulid nabi tampak seperti menyempitkan makna yang sejatinya. Padahal, menjadi pemimpin yang jujur dan amanah yang merupakan representasi sifat nabi, jauh lebih penting dilakukan.

About Unknown

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.